Kelor Sejuta Khasiat
“Jika dua minggu tak sembuh, Bapak lumpuh total.” Peringatan dokter di sebuah rumahsakit
di Bandung, Jawa Barat, itu terngiang-ngiang di telinga Hartadi.
Hartadi memang begitu sakit. Jika berjalan ia merasa tak seimbang, tubuh miring, dan kerap
jatuh. Bobot tubuh melorot tajam, 86 kg menjadi 60 kg, hanya dalam sebulan. “Saya tinggal
kulit pembalut tulang,” kata ayah tiga anak itu. Semula dokter menduga, Hartadi mengalami
gangguan saraf. Namun, tes darah menyibak biang kerok itu semua adalah kadar gula darah
yang membumbung: 600 mg/dl; kadar normal kurang dari 200 mg/dl.
Ahli medis geleng-geleng kepala melihat hasil tes itu. Ia heran, kadar gula darah yang
menjulang, tetapi Hartadi tak pingsan. Mendengar diagnosis itu keluarga pasrah. Namun,
Hendrik Christianto – anak sulung Hartadi - yang bekerja di Kabupaten Mimika, Papua,
enggan menerima suratan itu. Ia mengirimkan empat botol berisi masing-masing 30 kapsul
daun kelor kepada ayahnya di Karawang, Provinsi Jawa Barat.
Hendrik terinspirasi seorang kenalan warga Mimika yang juga mengidap diabetes mellitus.
Banyak bahan pangan yang mesti ia hindari jika hendak selamat.
Penderita itu akhirnya menyantap sayur daun kelor Moringa oleifera hampir saban hari.
Tanpa ia sadari, itulah jalan kesembuhan baginya.Bersandar pada kasus di Mimika Hartadi
rutin menelan tiga kapsul dua kali sehari sebelum makan pada pertengahan 2010. Dua pekan
kemudian ia merasakan perubahan: jalan relatif seimbang dan saat malam frekuensi berkemih
turun drastis menjadi 10 kali - biasanya 20 kali per malam. Perkembangan itu sejalah dengan
turunnya kadar gula darah menjadi 520 mg/dl.
Hasil tes darah itu sangat menggembirakan Hartadi. Itulah sebabnya ia disiplin mengonsumsi
kapsul daun kelor. Makin hari, kadar gula darah pria 59 tahun itu kian turun. Pengecekan
terakhir pada 2 Juni 2011 menunjukkan kadar gula darah normal, 145 mg/dl. Kini tubuh Hartadi
kembali padat berisi dan segar bugar. Meski begitu ia tetap mengonsumsi kapsul daun
tanaman anggota famili Moringaceae itu. Dosis berkurang, hanya dua kapsul per hari.
Kelor terbukti tokcer mengatasi diabetes mellitus. Bukti empiris itu sejalan dengan hasil
penelitian Jaiswal Dolly. Periset dari Departemen Kimia Universitas Allahabad, India, itu
membuktikan ekstrak kelor lebih efektif menurunkan kadar gula darah daripada Glipizide, obat
yang biasa direkomendasikan dokter untuk mengatasi kencing manis.
Dalam riset tikus diabetes mellitus itu semula berkadar gula darah 300 mg/dl. Namun, setelah
mengonsumsi 300 mg ekstrak daun kelor, kadar gula darah puasa 90 mg/dl pada hari ke-21.
Daun kelor bukan hanya mujarab mengatasi penyakit yang namanya berasal dari dokter di
Yunani, Aretaeus (30 - 90) itu (bahasa Yunani: diabainein = pancuran, mellitus = manis).
Faktanya banyak pasien beragam penyakit merasakan khasiat tanaman dari India utara itu.
Damar Novaldi - bukan nama sebenarnya - misalnya, pada Maret 2011 merasakan sakitnya
splenomegali. Menurut dokter spesialis penyakit dalam dari Universitas Airlangga, dr Arijanto
Jonosewojo SpPD, splenomegali adalah pembengkakan limpa. “Gangguan fungsi hati seperti
sklerosis hati atau kanker hati dapat menyebabkan splenomegali,” kata Arijanto. Penyakit itu
dapat mengakibatkan kematian bila organ di belakang lambung sepanjang 12 cm itu pecah. “
Saya pasrah. Istri dan ibu juga merasa terpukul,” kata Damar Novaldi setelah mendapat
diagnosis itu. Akibat penyakit itu, punggung sakit bukan kepalang, meski tersentuh sedikit saja
Nyeri hebat juga ia rasakan di ulu hati. Kondisi itu membuat Damar serbasalah: tidur miring
sakit, telentang pun nyeri. Menurut Arijanto sakit punggung dan ulu hati itu karena limpa
membengkak dan mengalami penekanan sehingga mempengaruhi saraf-saraf organ di
sekitarnya. Sepekan opname di rumahsakit di Jakarta Selatan, intensitas sakit memang
berkurang. Namun, setelah kembali ke rumah, pria 32 tahun berbobot 86 kg dan tinggi 169 cm
itu merasa nyeri lagi. Oleh karena itu ia patuh saat ibu menyarankan untuk menemui Valentina
Indrajati, herbalis di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Ketika itulah Valentina
meresepkan beragam herbal seperti daun kelor, rimpang bangle, dan daun jati belanda -
semua dalam bentuk serbuk berbobot masing-masing 10 gram. Damar merebus herbal
dalam dua gelas hingga mendidih dan tersisa segelas. Hasil rebusan itulah yang ia minum
rutin dua kali sehari. Pada awal Juli 2011 setelah tiga bulan konsumsi herbal, ia memeriksakan
kondisi kesehatan. “Pinggiran limpa yang semula menghitam, kembali normal berwarna ungu
gelap. Limpa juga sudah tak membengkak,” kata Damar yang girang bukan main.
Menurut Valentina yang meresepkan daun kelor sejak 2005, kelor memperbaiki fungsi hati
yang berhubungan dengan pencernaan dan detoksifikasi. Selain itu kelor juga kaya
antioksidan untuk membangun sistem kekebalan tubuh. Ketika kondisi tubuh sehat ibarat
benteng yang kokoh, sehingga mampu melawan serangan penyakit.
Makin populer Setahun terakhir, kelor Moringa oleifera (sinonim Guilandina moringa) memang
naik daun. Indikasinya antara lain kian banyak pasien yang memanfaatkan kelor. Damar
Novaldi dan Hartadi hanya sebagian kecil yang merasakan khasiat daun kelor. Kelor juga
mujarab mengatasi beragam penyakit lain seperti hepatitis, hiperlipidemia alias kolesterol
tinggi, dan jantung.
Pemanfaatan kelor sebagai herbal “tak terdengar” bila dibandingkan brotowali Tinospora
crispa, sambiloto Andrographis paniculata, atau temuputih Curcuma zedoaria. Selama ini
daun kelor identik dengan dunia magis, untuk membuang kesaktian seseorang menjelang ajal.
Biji klenthang alias polong kelor populer sebagai penjernih air. Namun, siapa sangka di balik
itu semua daun kelor manjur sebagai panasea alias obat untuk beragam penyakit.
Riset ilmiah mendukung kuat bukti empiris itu. beberapa tahun lalu Valentina kedatangan
pasien hepatitis C. “Matanya menguning, kulit tubuhnya juga kuning,” kata herbalis yang kerap
mengajar yoga di India dan Thailand itu. Herbalis itu meresepkan kelor dan beberapa herbal
lain seperti sambiloto dan pegagan kepada penderita berusia 16 tahun itu. Setelah rutin
mengonsumsi rebusan serbuk daun kelor, ia akhirnya sembuh sehingga batal opname di
rumahsakit.
Periset dari Anna Technology University, Tamilnadu, India, C Senthil Kumar, membuktikan
bahwa daun kelor memang berkhasiat sebagai hepatoprotektor alias pelindung hati. Menurut
dokter sekaligus herbalis di Yogyakarta, dr Sidi Aritjahja, kelor mengandung antioksidan yang
sangat tinggi dan sangat bagus untuk penyakit yang berhubungan dengan masalah
pencernaan, misalnya luka usus dan luka lambung. “Bagian apa pun yang dipakai aman asal
memperhatikan caranya,” ujar alumnus Universitas Gadjah Mada itu. Minumlah rebusan daun
kelor selagi air hangat. Sebab, efek antioksidan masih kuat dalam keadaan hangat.
Menurut dr Paulus Wahyudi Halim di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, kelor memiliki
energi dingin. Herbal seperti itu cocok untuk mengatasi penyakit dengan energi panas atau
kelebihan energi seperti radang atau kanker.
Serba ada
Begitu dahsyatnya khasiat daun kelor mengatasi aneka penyakit. Harap mafhum, daun pohon
stik drum itu memang mengandung senyawa aktif dan gizi lengkap (lihat infografis) Ahli gizi
dari Pusat Penelitian Gizi dan Makanan, Dr Mien Karmini, mengatakan, “Konsumsi asam
amino terlalu banyak, efeknya tidak terlalu mengkhawatirkan. Namun, kerja ginjal lebih berat
karena asam amino dikeluarkan melalui ginjal. Bila asam amino berasal dari nabati,
kemungkinan ginjal bekerja ekstra lebih rendah daripada asam amino dari hewani.”
Beberapa senyawa aktif dalam daun kelor adalah arginin, leusin, dan metionin. Tubuh memang
memproduksi arginin, tetapi sangat terbatas. Oleh karena itu perlu asupan dari luar seperti
kelor. Kandungan arginin pada daun kelor segar mencapai 406,6 mg; sedangkan pada daun
kering, 1.325 mg. Menurut Dr Mien Karmini, arginin meningkatkan imunitas atau kekebalan
tubuh. Di samping itu, arginin juga mempercepat proses penyembuhan luka, meningkatkan
kemampuan untuk melawan kanker, dan memperlambat pertumbuhan tumor. Sementara
metionin yang kadarnya mencapai 117 mg pada daun segar dan 350 mg (kering) mampu
menyerap lemak dan kolesterol. Oleh karena itu, metionin menjadi kunci kesehatan hati yang
banyak berhubungan dengan lemak. Kekurangan metionin menyebabkan beragam penyakit
seperti rematik kronis, sirosis, dan gangguan ginjal. Kadar valin dalam daun segar 374 mg
atau 1.063 mg (kering) berfungsi dalam sistem saraf dan pencernaan. Perannya antara lain
membantu gangguan saraf otot, gangguan mental, emosional, dan insomnia.
Tubuh juga memerlukan leusin karena tak mampu memproduksi sendiri. Daun kelor segar
mengandung 492 mg leusin berperan dalam pembentukan protein otot dan fungsi sel normal. “
Leusin sangat penting untuk pertumbuhan sel sehingga anak-anak dan remaja mutlak
memerlukannya.
Ambang batas kebutuhan leusin adalah 55 mg per g protein,” kata Mien Karmini.
Itu hanya sebagian kecil senyawa aktif pada daun kelor. Padahal, selain daun, bagian lain
pada tanaman itu juga tak kalah berkhasiat. Kulit batang Moringa oleifera, umpamanya,
berkhasiat antitumor (baca Pucuk Sampai Akar Manjur halaman 20 - 21). Pantas bila kini
makin banyak herbalis yang meresepkan daun kelor.
Herbalis di Yogyakarta, Lina Mardiana, misalnya, meresepkan daun kelor untuk para pasien
beragam penyakit seperti hiperlipidemia dan pendarahan. Lina memberikan kelor kepada
Asih Susilowati yang keguguran. Peran kelor membantu produksi sel darah merah akibat
kehilangan darah saat keguguran, memperkuat rahim, dan saluran indung telur. Sebulan
setelah rutin mengonsumsi rebusan daun kelor, Asih hamil. Ia melahirkan dengan selamat
sembilan bulan kemudian.
Herbalis di Kotamadya Batu, Provinsi Jawa Timur, Wahyu Suprapto, sepakat bahwa kelor
bagus bagi penderita pendarahan seperti Asih dan anemia. Kandungan zat besi kelor sangat
tinggi, yakni 28 mg per 100 gram bahan.
Di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, kelor memang sohor sebagai bahan pangan.
Rodney Perdew yang tinggal di Arizona, Amerika Serikat, membudidayakan kelor di Arizona
dan Meksiko - lebih dari 80.000 tanaman. Ia mengolah kelor menjadi teh, kapsul, dan minyak. “
Sejak dua tahun lalu, terjadi peningkatan pertumbuhan 50% per tahun,” kata Rodney.
Ia tertarik mengebunkan komoditas itu karena, “Kelor merupakan sumber pangan yang hebat,
sekaligus bahan kosmetik dan obat,” kata Rodney kepada wartawan Trubus Tri Istianingsih. Itu
bukti bahwa kelor memang tanaman serbaguna: daun, kulit batang, polong, akar, bahkan getah
nya pun berkhasiat obat. (Sardi Duryatmo/Peliput: Andari Titisari, Imam
Wiguna, Pranawita Karina, & Tri Susanti) - Trubus
DOWNLOAD BUKU IPA SMP UNTUK BAHAN PENGAYAAN GURU DAN SISWA
Buku IPA Kelas VII SMP/Sederajat KTSP 2006
- Alam Sekitar IPA Terpadu Kelas 7 Iip Rohima Diana Puspita 2009.pdf
- Belajar IPA Membuka Cakrawala Alam Sekitar Kelas 7 Saeful Karim Ida Nurul Fauziah Wahyu Sopandi 2009.pdf
- Cerdas Belajar IPA VII Kelas 1 Agung Wijaya Budi Suryatin Das Salirawati 2009.pdf
- Ilmu Pengetahuan Alam (Terpadu) Kelas 7 Setya Nurachmandani dan Samson Samsulhadi 2010.pdf
- Ilmu Pengetahuan Alam Kelas 7 Asep Suryatna Enjah Takari R 2009.pdf
- Ilmu Pengetahuan Alam Kelas 7 Zaipudin Arahim Purwosutanto Purwo Dasihanto Pu 2009.pdf
- Ilmu Pengetahuan Alam Kelas VII Kelas 7 Wasis Sukarmin Elok Sudibyo Utiya Azizah 2008.pdf
- Ilmu Pengetahuan Alam VII Kelas 7 Teguh Sugiyarto Eni Ismawati 2008.pdf
- Ilmu Pengetahuan Alam VII Kelas 7 Wasis Sugeng Yuli Irianto 2008.pdf
- IPA Terpadu Kelas 7 Sudjino Waldjinah Endang Purwanti 2008.pdf