Friday, August 31, 2012

Kelor Sejuta Khasiat


Kelor Sejuta Khasiat
 
“Jika dua minggu tak sembuh, Bapak lumpuh total.” Peringatan dokter di sebuah rumahsakit 
di Bandung, Jawa Barat, itu terngiang-ngiang di telinga Hartadi.
 
Hartadi memang begitu sakit. Jika berjalan ia merasa tak seimbang, tubuh miring, dan kerap 
jatuh. Bobot tubuh melorot tajam, 86 kg menjadi 60 kg, hanya dalam sebulan. “Saya tinggal 
kulit pembalut tulang,” kata ayah tiga anak itu. Semula dokter menduga, Hartadi mengalami 
gangguan saraf. Namun, tes darah menyibak biang kerok itu semua adalah kadar gula darah 
yang membumbung: 600 mg/dl; kadar normal kurang dari 200 mg/dl.
 
Ahli medis geleng-geleng kepala melihat hasil tes itu. Ia heran, kadar gula darah yang 
menjulang, tetapi Hartadi tak pingsan. Mendengar diagnosis itu keluarga pasrah. Namun, 
Hendrik Christianto – anak sulung Hartadi - yang bekerja di Kabupaten Mimika, Papua, 
enggan menerima suratan itu. Ia mengirimkan empat botol berisi masing-masing 30 kapsul 
daun kelor kepada ayahnya di Karawang, Provinsi Jawa Barat.
Hendrik terinspirasi seorang kenalan warga Mimika yang juga mengidap diabetes mellitus. 
Banyak bahan pangan yang mesti ia hindari jika hendak selamat.
Penderita itu akhirnya menyantap sayur daun kelor Moringa oleifera hampir saban hari. 
Tanpa ia sadari, itulah jalan kesembuhan baginya.Bersandar pada kasus di Mimika Hartadi 
rutin menelan tiga kapsul dua kali sehari sebelum makan pada pertengahan 2010. Dua pekan
kemudian ia merasakan perubahan: jalan relatif seimbang dan saat malam frekuensi berkemih
turun drastis menjadi 10 kali - biasanya 20 kali per malam. Perkembangan itu sejalah dengan 
turunnya kadar gula darah menjadi 520 mg/dl.
Hasil tes darah itu sangat menggembirakan Hartadi. Itulah sebabnya ia disiplin mengonsumsi 
kapsul daun kelor. Makin hari, kadar gula darah pria 59 tahun itu kian turun. Pengecekan 
terakhir pada 2 Juni 2011 menunjukkan kadar gula darah normal, 145 mg/dl. Kini tubuh Hartadi
kembali padat berisi dan segar bugar. Meski begitu ia tetap mengonsumsi kapsul daun 
tanaman anggota famili Moringaceae itu. Dosis berkurang, hanya dua kapsul per hari.
 
Kelor terbukti tokcer mengatasi diabetes mellitus. Bukti empiris itu sejalan dengan hasil 
penelitian Jaiswal Dolly. Periset dari Departemen Kimia Universitas Allahabad, India, itu 
membuktikan ekstrak kelor lebih efektif menurunkan kadar gula darah daripada Glipizide, obat 
yang biasa direkomendasikan dokter untuk mengatasi kencing manis.
 
Dalam riset tikus diabetes mellitus itu semula berkadar gula  darah 300 mg/dl. Namun, setelah
mengonsumsi 300 mg ekstrak daun kelor, kadar gula darah puasa 90 mg/dl pada hari ke-21.
Daun kelor bukan hanya mujarab mengatasi penyakit yang namanya berasal dari dokter di 
Yunani, Aretaeus (30 - 90) itu (bahasa Yunani: diabainein = pancuran, mellitus = manis). 
 
Faktanya banyak pasien beragam penyakit merasakan khasiat tanaman dari India utara itu. 
Damar Novaldi - bukan nama sebenarnya - misalnya, pada Maret 2011 merasakan sakitnya 
splenomegali. Menurut dokter spesialis penyakit dalam dari Universitas Airlangga, dr Arijanto 
Jonosewojo SpPD,  splenomegali adalah pembengkakan limpa. “Gangguan fungsi hati seperti
sklerosis hati atau kanker hati dapat menyebabkan splenomegali,” kata Arijanto. Penyakit itu 
dapat mengakibatkan kematian bila organ di belakang lambung sepanjang 12 cm itu pecah. “
Saya pasrah. Istri dan ibu juga merasa terpukul,” kata Damar Novaldi setelah mendapat 
diagnosis itu. Akibat penyakit itu, punggung sakit bukan kepalang, meski tersentuh sedikit saja
Nyeri hebat juga ia rasakan di ulu hati. Kondisi itu membuat Damar serbasalah: tidur miring 
sakit, telentang pun nyeri. Menurut Arijanto sakit punggung dan ulu hati itu karena limpa 
membengkak dan mengalami penekanan sehingga mempengaruhi saraf-saraf organ di 
sekitarnya. Sepekan opname di rumahsakit di Jakarta Selatan, intensitas sakit memang 
berkurang. Namun, setelah kembali ke rumah, pria 32 tahun berbobot 86 kg dan tinggi 169 cm 
itu merasa nyeri lagi. Oleh karena itu ia patuh saat ibu menyarankan untuk menemui Valentina
Indrajati, herbalis di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Ketika itulah Valentina 
meresepkan beragam herbal seperti daun kelor, rimpang bangle, dan daun jati belanda - 
semua dalam bentuk serbuk berbobot masing-masing 10 gram.  Damar merebus herbal 
dalam dua gelas hingga mendidih dan tersisa segelas. Hasil rebusan itulah yang ia minum 
rutin dua kali sehari. Pada awal Juli 2011 setelah tiga bulan konsumsi herbal, ia memeriksakan
kondisi kesehatan. “Pinggiran limpa yang semula menghitam, kembali normal berwarna ungu 
gelap. Limpa juga sudah tak membengkak,” kata Damar yang girang bukan main. 
 
Menurut Valentina yang meresepkan daun kelor sejak 2005,  kelor memperbaiki fungsi hati 
yang berhubungan dengan pencernaan dan detoksifikasi. Selain itu kelor juga kaya 
antioksidan untuk membangun sistem kekebalan tubuh. Ketika kondisi tubuh sehat ibarat 
benteng yang kokoh, sehingga mampu melawan serangan penyakit.
 
Makin populer Setahun terakhir, kelor Moringa oleifera (sinonim Guilandina moringa) memang
naik daun. Indikasinya antara lain kian banyak pasien yang memanfaatkan kelor. Damar 
Novaldi dan Hartadi hanya sebagian kecil yang merasakan khasiat daun kelor. Kelor juga 
mujarab mengatasi beragam penyakit lain seperti hepatitis, hiperlipidemia alias kolesterol 
tinggi, dan jantung. 
 
Pemanfaatan kelor sebagai herbal “tak terdengar” bila dibandingkan brotowali Tinospora 
crispa, sambiloto Andrographis paniculata, atau  temuputih Curcuma zedoaria. Selama ini 
daun kelor identik dengan dunia magis, untuk membuang kesaktian seseorang menjelang ajal. 
Biji klenthang alias polong kelor populer sebagai penjernih air. Namun, siapa sangka di balik 
itu semua daun kelor manjur sebagai panasea alias obat untuk beragam penyakit.
 
Riset ilmiah mendukung kuat bukti empiris itu. beberapa tahun lalu Valentina kedatangan 
pasien hepatitis C. “Matanya menguning, kulit tubuhnya juga kuning,” kata herbalis yang kerap
mengajar yoga di India dan Thailand itu. Herbalis itu meresepkan kelor dan beberapa herbal 
lain seperti sambiloto dan pegagan kepada penderita berusia 16 tahun itu. Setelah rutin 
mengonsumsi rebusan serbuk daun kelor, ia akhirnya sembuh sehingga batal opname di 
rumahsakit. 
Periset dari Anna Technology University, Tamilnadu, India, C Senthil Kumar, membuktikan 
bahwa daun kelor memang berkhasiat sebagai hepatoprotektor alias pelindung hati. Menurut 
dokter sekaligus herbalis di Yogyakarta, dr Sidi Aritjahja, kelor mengandung antioksidan yang 
sangat tinggi dan sangat bagus untuk penyakit yang berhubungan dengan masalah 
pencernaan, misalnya luka usus dan luka lambung. “Bagian apa pun yang dipakai aman asal 
memperhatikan caranya,” ujar alumnus Universitas Gadjah Mada itu. Minumlah rebusan daun 
kelor selagi air hangat. Sebab, efek antioksidan masih kuat dalam keadaan hangat. 
 
Menurut dr Paulus Wahyudi Halim di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, kelor memiliki 
energi dingin. Herbal seperti itu cocok untuk mengatasi penyakit dengan energi panas atau 
kelebihan energi seperti radang atau kanker.
 
Serba ada
Begitu dahsyatnya khasiat daun kelor mengatasi aneka penyakit. Harap mafhum,  daun pohon 
stik drum itu memang mengandung senyawa aktif dan gizi lengkap (lihat infografis) Ahli gizi 
dari Pusat Penelitian Gizi dan Makanan, Dr Mien Karmini, mengatakan, “Konsumsi asam 
amino terlalu banyak, efeknya tidak terlalu mengkhawatirkan. Namun, kerja ginjal lebih berat 
karena asam amino dikeluarkan melalui ginjal. Bila asam amino berasal dari nabati, 
kemungkinan ginjal bekerja ekstra lebih rendah daripada asam amino dari hewani.”
 
Beberapa senyawa aktif dalam daun kelor adalah arginin, leusin, dan metionin. Tubuh memang
 memproduksi arginin, tetapi sangat terbatas. Oleh karena itu perlu asupan dari luar seperti 
kelor. Kandungan arginin pada daun kelor segar mencapai 406,6 mg; sedangkan pada daun 
kering, 1.325 mg. Menurut Dr Mien Karmini, arginin meningkatkan imunitas atau kekebalan 
tubuh. Di samping itu, arginin juga mempercepat proses penyembuhan luka, meningkatkan 
kemampuan untuk melawan kanker, dan memperlambat pertumbuhan tumor. Sementara 
metionin yang kadarnya mencapai 117 mg pada daun segar dan 350 mg (kering) mampu 
menyerap lemak dan kolesterol. Oleh karena itu, metionin menjadi kunci kesehatan hati yang  
banyak berhubungan dengan lemak. Kekurangan metionin menyebabkan beragam penyakit 
seperti rematik kronis, sirosis, dan gangguan ginjal. Kadar valin dalam daun segar 374 mg 
atau 1.063 mg (kering) berfungsi dalam sistem saraf dan pencernaan. Perannya antara lain 
membantu gangguan saraf otot, gangguan mental, emosional, dan insomnia. 
 
Tubuh juga memerlukan leusin karena tak mampu memproduksi sendiri. Daun kelor segar 
mengandung 492 mg leusin berperan dalam pembentukan protein otot dan fungsi sel normal. “
Leusin sangat penting untuk pertumbuhan sel sehingga anak-anak dan remaja mutlak 
memerlukannya.
Ambang batas kebutuhan leusin adalah 55 mg per g protein,” kata Mien Karmini.
Itu hanya sebagian kecil senyawa aktif pada daun kelor. Padahal, selain daun, bagian lain 
pada tanaman itu juga tak kalah berkhasiat. Kulit batang Moringa oleifera, umpamanya, 
berkhasiat antitumor (baca Pucuk Sampai Akar Manjur halaman 20 - 21). Pantas bila kini 
makin banyak herbalis yang meresepkan daun kelor. 
 
Herbalis di Yogyakarta, Lina Mardiana, misalnya, meresepkan daun kelor untuk para pasien 
beragam penyakit seperti hiperlipidemia dan pendarahan. Lina memberikan kelor kepada 
Asih Susilowati yang keguguran. Peran kelor membantu produksi sel darah merah akibat 
kehilangan darah saat keguguran, memperkuat rahim, dan saluran indung telur. Sebulan 
setelah rutin mengonsumsi rebusan daun kelor, Asih hamil. Ia melahirkan dengan selamat 
sembilan bulan kemudian. 
 
Herbalis di Kotamadya Batu, Provinsi Jawa Timur, Wahyu Suprapto, sepakat bahwa kelor 
bagus bagi penderita pendarahan seperti Asih dan anemia. Kandungan zat besi kelor sangat 
tinggi, yakni 28 mg per 100 gram bahan.
 
Di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, kelor memang sohor sebagai bahan pangan. 
Rodney Perdew yang tinggal di Arizona, Amerika Serikat, membudidayakan kelor di Arizona 
dan Meksiko - lebih dari 80.000 tanaman. Ia mengolah kelor menjadi teh, kapsul, dan minyak. “
Sejak dua tahun lalu, terjadi peningkatan pertumbuhan 50% per tahun,” kata Rodney.
Ia tertarik mengebunkan komoditas itu karena, “Kelor merupakan sumber pangan yang hebat, 
sekaligus bahan kosmetik dan obat,” kata Rodney kepada wartawan Trubus Tri Istianingsih. Itu 
bukti bahwa kelor memang tanaman serbaguna: daun, kulit batang, polong, akar, bahkan getah
nya pun berkhasiat obat. (Sardi Duryatmo/Peliput: Andari Titisari, Imam
Wiguna, Pranawita Karina, & Tri Susanti) - Trubus

DOWNLOAD BUKU IPA SMP UNTUK BAHAN PENGAYAAN GURU DAN SISWA
Buku IPA Kelas VII SMP/Sederajat KTSP 2006
  1. Alam Sekitar IPA Terpadu Kelas 7 Iip Rohima Diana Puspita 2009.pdf
  2. Belajar IPA Membuka Cakrawala Alam Sekitar Kelas 7 Saeful Karim Ida Nurul Fauziah Wahyu Sopandi 2009.pdf
  3. Cerdas Belajar IPA VII Kelas 1 Agung Wijaya Budi Suryatin Das Salirawati 2009.pdf
  4. Ilmu Pengetahuan Alam (Terpadu) Kelas 7 Setya Nurachmandani dan Samson Samsulhadi 2010.pdf
  5. Ilmu Pengetahuan Alam Kelas 7 Asep Suryatna Enjah Takari R 2009.pdf
  6. Ilmu Pengetahuan Alam Kelas 7 Zaipudin Arahim Purwosutanto Purwo Dasihanto Pu 2009.pdf
  7. Ilmu Pengetahuan Alam Kelas VII Kelas 7 Wasis Sukarmin Elok Sudibyo Utiya Azizah 2008.pdf
  8. Ilmu Pengetahuan Alam VII Kelas 7 Teguh Sugiyarto Eni Ismawati 2008.pdf
  9. Ilmu Pengetahuan Alam VII Kelas 7 Wasis Sugeng Yuli Irianto 2008.pdf
  10. IPA Terpadu Kelas 7 Sudjino Waldjinah Endang Purwanti 2008.pdf

No comments:

Post a Comment